Aside

Nenek Berusia 100 Tahun Pun Tidur di Pengungsian
Penulis : Kontributor Manggarai, Markus Makur | Senin, 21 Januari 2013 | 11:07 WIB
 
Dibaca: 801
|
Share:

 

Nenek Berusia 100 Tahun Pun Tidur di Pengungsian
KOMPAS.com/Markus Makur
Nenek Maria Naek (100) dan Koleta Bungkung (79) merupakan korban tanah terbelah dan longsor di Kampung Rakas, Desa Golo Paleng, Kecamatan Lambaleda, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur tidur beralaskan tikar di Kamp Pengungsiaan di Kapela Goloutur

 

TERKAIT:

LAMBALEDA, KOMPAS.com –  Maria Naek tersenyum sambil berusaha memperbaiki posisi tubuhnya yang terkulai di atas selembar tikar pandan lusuh, yang dihamparkan di lantai kapel (rumah ibadah Katolik yang berukuran lebih kecil dari gereja) di Kampung Rakas, Desa Paleng, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. 

Maria Naek adalah satu di 431 warga setempat yang mengungsi akibat musibah longsor dan tanah terbelah yang mengantam Desa Paleng. Saat Kompas.com berkunjung ke tempat itu, banyak warga pengungsi yang terus memberitahu bahwa ada nenek berusia 100 tahun yang mengungsi bersama mereka. Nenek renta yang dimaksud warga pengungsi adalah adalah Maria.

Bersama Koleta Bungkung, nenek berusia 79 tahun, Maria berbaring berdampingan di salah satu sudut kapel. Sepertinya, mereka tidak mengetahui kondisi apa yang sedang dialaminya. Dua nenek itu terlihat memakai kain untuk menyelimuti tubuh dari serangan cuaca yang sangat dingin. Sayang, kedua nenek ini tak bisa lagi diajak bercakap-cakap. Hanya terlihat mereka masih bisa menikmati nasi yang dibagikan bagi para pengungsi.

“Dua nenek ini bersama-sama dengan warga pengungsi lainnya menghuni ruangan kapela sejak Minggu (14/1/2013) lalu. Bahkan nenek Maria Naek sudah bungkuk sehingga kalau jalan harus dibantu oleh salah satu keluarganya dan memegang tongkat. Inilah kondisi riil yang dialami warga pengungsi yang ditampung di Kapela Goloutur,” tutur Kepala Desa Golo Paleng, Belasius Banis, akhir pekan lalu.

Terkait kondisi pengungsian tersebut, Belasius mengaku sangat membutuhkan bantuan kain panas, tikar, air minum, dan periuk untuk memasak. “Kami belum bisa kembali ke kampung karena masih takut dengan kondisi tanah terbelah dan turun di bagian atas kampung dan tanah longsor di bagian bawah kampung,” kata dia. “Oom wartawan sudah melihat langsung kondisi tanah terbelah dan turun di atas kampung dan tanah longsor di bagian bawah kampung serta empat rumah warga yang sudah retak?” tanya Belasius.

Senada dengan Belasius, Pastor Paroki Benteng Jawa, Kanisius Ali yang juga mengamati keadaan kedua nenek renta serta para pengungsi lainnya, mengaku prihatin dengan kondisi yang tengah terjadi. Maria dan warga yang mengungsi di kapel tersebut kini tak bisa kembali ke tanah tempatnya menetap karena ancaman longsor dan tanah terbelah.

Pada bagian itulah, Ali berharap ada porsi perhatian yang lebih dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur dan Keuskupan Ruteng. “Kampung Rakas tidak bisa dihuni lagi karena sewaktu-waktu kalau hujan lebat di wilayah ini maka tanah yang terbelah di bagian atas kampung akan longsor. Saya berharap warga pengungsi mau direlokasi di tempat yang aman,” kata Ali.

 
Editor :
Glori K. Wadrianto
 
 
 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s